Pilih Perhiasan, Logam Mulia atau Dinar?

JAKARTA, KOMPAS.com — Peningkatan harga emas belakangan ini yang dipacu oleh konflik di sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika Utara turut meningkatkan permintaan emas, khususnya logam mulia, sebagai investasi alternatif.

Harga emas cenderung meningkat dan sempat mencapai harga di level tertinggi sepanjang sejarah di harga 1.444,95 dollar AS per troy ounce, Senin (7/3/2011) lalu. "Emas itu uang yang tidak pernah bohong, dari jaman dulu sampai sekarang," kata Founder AG Golden Investment Club Ahmad Gozali ketika dihubungi Kompas.com Rabu (9/3/2011).

AG Golden Investment Club adalah sebuah komunitas investasi syariah di mana setiap member-nya bisa mendapatkan edukasi, saling memberikan informasi, dan bersama-sama mendapatkan akses yang lebih mudah (dan lebih murah) untuk melakukan investasi secara syariah.

Menurut Ahmad, emas punya kenaikan (harga) yang sangat tinggi, mencapai 20 persen dalam 5 tahun terakhir. Peningkatannya pun cukup konsisten. Terkait hal tersebut, emas lebih baik dari saham. "Ini lebih baik dari saham yang 2007 silam gila-gilaan, tapi 2008 anjlok," jelasnya untuk membandingkan konsistensi kenaikan antara emas dan saham dalam hal investasi.

Emas pun merupakan bentuk investasi tradisional dan merakyat."Siapa pun bisa membeli emas. Beli, simpan, didiamkan, naik sendiri (harganya)," jelasnya. Untuk berinvestasi emas pun tidak butuh belajar seperti halnya saham.

Mengenai bentuk investasi dalam emas, Ahmad menilai, LM dan dinar sebagai investasi yang efisien dibandingkan emas perhiasan. LM dan dinar bisa diperoleh di logam mulia salah satu unit usaha PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). "Namun, dinar masih jarang dijual di toko mas, seperti halnya LM atau perhiasan. Selain di Antam, dinar biasanya dijual di agen-agen tertentu dan kolektor," sebutnya.

Untuk diketahui, dinar itu merupakan koin emas yang dipakai sebagai mata uang seperti pada jaman Turki Usmaniyah. Beratnya 4,25 gram, dengan 22 karat, jelas Ahmad yang juga perencana perekonomian di Safir Senduk dan rekan. "Desainnya meniru uang jaman dulu sehingga ada unsur koleksi dan investasi," jelasnya.

Sama dengan LM, dinar pun memiliki standar pabrik dan dicetak di Antam. Bedanya dinar dengan LM, dinar hanya memiliki satu pecahan, sedangkan LM punya sejumlah pecahan.

Ahmad pun menyarankan, untuk investasi kecil-kecilan lebih baik beli dinar, sedangkan LM untuk investasi skala besar. Karena memiliki standar pabrik yang sama, harga jual-belinya pun sama antartoko.

Beda dengan perhiasan, karena ada nilai seninya, harga pun beda antartoko. Maka, perhiasan kurang efisien untuk investasi. Untuk prospek ke depan, Ahmad menilai grafik kenaikan LM dan dinar sama-sama 10 persen. Sedangkan, perhiasan beda karena biasanya tidak mengikuti harga pasar, jelas Ahmad yang kurang mengetahui secara detail mengenai bagaimana harga emas perhiasan terbentuk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar